JAKARTA - Menjalankan ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar serta dahaga melainkan juga menjaga lisan dan perilaku agar pahala yang didapatkan tetap terjaga sempurna.
Ibadah puasa merupakan momentum sakral bagi umat Muslim untuk meningkatkan ketakwaan dan memperkuat kontrol diri dari segala bentuk perbuatan yang dilarang agama Islam.
Namun sering kali umat terjebak pada ritual fisik saja sehingga mengabaikan esensi ruhani yang seharusnya menjadi inti utama dalam pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadhan.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengingatkan bahwa ada beberapa hal krusial yang harus diperhatikan agar ibadah puasa kita tidak berakhir dengan kerugian.
Menghindari Perilaku Yang Menghapus Nilai Pahala Ibadah Puasa
Penting bagi setiap individu untuk menyadari bahwa puasa memiliki dimensi etika yang sangat ketat dan harus dipatuhi agar nilai ibadah tidak hilang begitu saja tanpa bekas.
Berdasarkan tuntunan yang dikeluarkan pada Jumat 27 Februari 2026, ditegaskan bahwa berkata bohong atau melakukan tindakan tercela lainnya bisa merusak nilai-nilai spiritualitas yang sedang dibangun.
Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah hadis bahwa Allah tidak membutuhkan penahanan lapar dan dahaga dari orang yang tetap melakukan tindakan serta perkataan yang penuh kebohongan.
Pentingnya Menjaga Lisan Dan Menghindari Perdebatan Tidak Berguna
Selain menahan diri dari konsumsi makanan, menjaga lisan dari ghibah, adu domba, dan perkataan kotor merupakan syarat mutlak bagi kesempurnaan pahala puasa yang sedang dijalankan.
Tindakan emosional seperti marah yang tidak terkendali atau terlibat dalam pertikaian yang sia-sia dapat menurunkan derajat puasa seseorang menjadi hanya sekadar lapar fisik yang sangat melelahkan.
Muhammadiyah menekankan bahwa pengendalian diri terhadap lisan adalah ujian sesungguhnya yang menunjukkan sejauh mana kualitas keimanan seseorang saat diuji dengan rasa lapar yang hebat di siang hari.
Optimalisasi Ibadah Dengan Memperbanyak Amalan Sunnah Ramadhan
Agar puasa tidak menjadi sia-sia, umat disarankan untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif secara spiritual seperti membaca Al-Quran dan memperbanyak sedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan zikir juga menjadi poin penting yang disampaikan agar cahaya keberkahan selalu menyertai setiap langkah harian selama satu bulan penuh.
Amalan-amalan sunnah ini berfungsi sebagai penyempurna sekaligus penambal kekurangan yang mungkin terjadi selama kita melaksanakan ibadah wajib puasa dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari di ufuk.
Esensi Pengendalian Diri Sebagai Puncak Keberhasilan Spiritual
Tujuan akhir dari puasa adalah mencapai derajat takwa, di mana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu dan kecenderungan buruk dalam dirinya dengan bantuan bimbingan nilai-nilai religius yang kuat.
Oleh karena itu, setiap detik di bulan Ramadhan harus dimanfaatkan dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian dalam bertindak agar tidak tergelincir pada hal-hal yang bersifat merugikan pahala.
Dengan memperhatikan panduan ini, diharapkan seluruh umat Muslim dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih bermakna dan mendapatkan rida Allah secara utuh tanpa ada satu pun yang sia-sia.