Keamanan Pengiriman B3 Menjadi Prioritas Utama Layanan Logistik

Rabu, 18 Februari 2026 | 10:17:02 WIB
Keamanan Pengiriman B3 Menjadi Prioritas Utama Layanan Logistik

JAKARTA - Optimalisasi layanan logistik berbasis rel kini semakin menitikberatkan pada faktor keselamatan, terutama dalam pengangkutan komoditas sensitif seperti Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 

Melalui layanan angkutan kereta api (KA) kontainer, BUMN layanan pengiriman angkutan logistik ini terus mengoptimalkan aspek keamanan dan keselamatan dalam pengangkutan komoditas khusus, termasuk B3. 

Layanan ini menghadirkan alternatif pengangkutan B3 yang terstandar dan dikelola secara ketat sesuai ketentuan keselamatan dan regulasi yang berlaku.

VP of Corporate Secretary KAI Logistik (Kalog), Dwi Wulandari menyatakan bahwa angkutan B3 memerlukan penanganan khusus, karena termasuk dalam kategori dangerous goods. 

Oleh karena itu, seluruh layanan angkutan B3 melalui KA dijalankan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan regulasi.

Yang jelas layanan angkutan melalui KA telah mengantongi perizinan dari regulator, sehingga memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi pelanggan.

“Hingga saat ini, kami telah memperoleh izin pengangkutan untuk 12 jenis dangerous goods/B3 di antaranya Nitrogen, Amonia, Argon, Asam Sulfat, Etanol, Hidrogen Peroksida, Isopropil Alkohol, Natrium Hidroksida, Fenol, Karbon Dioksida, Heksana, Metanol,” ungkap Dwi.

Distribusi komoditas B3 di Indonesia sendiri diatur secara ketat melalui berbagai regulasi, termasuk Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Proses distribusi harus memenuhi standar tinggi dalam hal pengemasan, pelabelan dan manajemen risiko.

Kepatuhan Regulasi dan Manajemen Risiko

Pengangkutan B3 tidak hanya menuntut kesiapan armada, tetapi juga sistem manajemen risiko yang terintegrasi. Setiap tahapan, mulai dari penerimaan barang, proses muat, perjalanan, hingga bongkar, wajib memenuhi ketentuan teknis dan administratif. Hal ini penting untuk meminimalkan potensi bahaya terhadap manusia maupun lingkungan.

Dalam implementasinya, pengangkutan B3 melalui KA dilengkapi dokumen resmi berupa surat Rekomendasi Pengangkutan B3 melalui KA. Dokumen tersebut memastikan bahwa jalur distribusi, titik muat, serta lokasi bongkar di wilayah Pulau Jawa telah memenuhi standar yang ditetapkan regulator lingkungan dan perkeretaapian.

Dengan pendekatan tersebut, layanan KA kontainer menjadi alternatif yang tidak hanya efisien, tetapi juga terkendali. Moda rel dinilai memiliki tingkat risiko kecelakaan yang lebih rendah dibandingkan moda darat berbasis jalan raya, khususnya untuk komoditas berisiko tinggi.

Fokus Perseroan pada Keberlanjutan

Layanan angkutan B3 ini sekaligus memperkuat peran moda KA sebagai moda transportasi yang lebih berkelanjutan. Sejumlah aspek menjadi fokus perseroan, antara lain penggunaan moda transportasi rendah emisi, peningkatan keselamatan publik dan perlindungan lingkungan, serta kontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Melalui layanan ini, kami mendukung tujuan No. 9 Industri dan Infrastruktur, mendorong inovasi dalam sistem logistik nasional yang lebih modern dan efisien, tujuan No 11 terkait Kota Berkelanjutan dengan mengurangi potensi risiko distribusi bahan berbahaya di kawasan padat penduduk serta tujuan No. 13 (Aksi Iklim) dengan pengurangan emisi transportasi melalui pengalihan ke moda KA,” jelasnya.

Pengalihan distribusi B3 ke moda kereta api dinilai mampu mengurangi kepadatan lalu lintas kendaraan berat di jalan raya. 

Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan moda rel relatif lebih rendah dibandingkan angkutan truk dalam jumlah muatan setara. Hal ini sejalan dengan komitmen industri untuk menekan jejak karbon dan mendukung transisi menuju sistem logistik hijau.

Kinerja Positif dan Pertumbuhan Kepercayaan Industri

Menurut Dwi, perseroan berharap layanan ini dapat menjadi opsi pengangkutan yang andal dan berkelanjutan dalam mendukung berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, farmasi, hingga energi. 

Seluruh pengangkutan B3 dilakukan berdasarkan surat Rekomendasi Pengangkutan B3 melalui KA yang memastikan bahwa jalur, titik muat dan bongkar di wilayah Pulau Jawa telah memenuhi standar teknis dan administratif sesuai regulasi lingkungan dan perkeretaapian.

“Sepanjang tahun 2025, perseroan mencatatkan kinerja pengelolaan angkutan kontainer sebesar 2,5 juta ton angkutan kontainer termasuk di dalamnya komoditi B3/ Dangerous goods. Capaian tersebut tumbuh sekitar 8% dibandingkan tahun 2024 sebesar 2,3 juta ton. Kinerja tersebut mencerminkan bertumbuhnya kepercayaan industri terhadap layanan distribusi berbasis KA yang tidak hanya andal, tetapi juga lebih ramah lingkungan,” sambungnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa industri semakin mempertimbangkan aspek keamanan dan keberlanjutan dalam memilih moda distribusi. Keandalan jadwal, kapasitas angkut besar, serta standar keselamatan yang ketat menjadi nilai tambah layanan KA kontainer.

Dengan pendekatan berbasis regulasi, manajemen risiko yang komprehensif, serta komitmen pada prinsip keberlanjutan, angkutan B3 melalui KA kontainer diharapkan terus berkembang. 

Ke depan, moda rel berpotensi memainkan peran lebih besar dalam mendukung distribusi komoditas strategis nasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan.

Terkini